Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2009

Penerimaan Mahasiswa Baru STIS


Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) merupakan perguruan tinggi kedinasan yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS). STIS yang berdiri sejak 1958, kembali memanggil para pemuda dan pemudi Indonesia terbaik lulusan sekolah lanjutan tingkat atas yang memiliki motivasi tinggi untuk dididik menjadi ahli statistik.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi kedinasan program D-IV, STIS memiliki visi menjadi lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang berfungsi untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang statistik dan komputasi statistik dengan mendidik kader yang memiliki kemampuan akademik/profesional.

Para mahasiswa/mahasiswi akan belajar pada jurusan: Statistika (Ekonomi dan Sosial Kependudukan dan Komputasi Statistik. Jurusan Statistika menghasilkan tenaga ahli statistik ekonomi serta tenaga ahli statistik sosial kependudukan. Sedangkan jurusan Komputasi Statistik menghasilkan tenaga ahli komputasi statistik dan sistem informasi.

Untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, kurikulum pendidikan di STIS dirancang sesuai perkembangan ilmu ekonomi, kependudukan, sosial, manajemen dan teknologi informasi. Proses dan metode pembelajaran ditekankan pada pengembangan keterampilan di bidang statistik dan komputasi statistik dan diasuh oleh pengajar lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri dengan jenjang S2 dan S3.

Dengan demikain lulusan STIS diharapkan menjadi tenaga yang mampu merencanakan dan melaksanakan penelitian, melakukan analisis di bidang sosial-ekonomi, serta merencanakan dan mengembangkan sistem informasi.

Selama kuliah mahasiswa mendapat tunjangan Ikatan Dinas sesuai aturan pemerintah yang berlaku. Sementara itu, lulusan STIS mendapat gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T.).
Prospek Lulusan

Lulusan STIS langsung diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) golongan III A pada Badan Pusat Statistik dan ditempatkan di lingkungan BPS seluruh Indonesia sampai dengan tingkat Kabupaten/Kota serta mampu melakukan kegiatan berbagai survey statistik di lapangan.
Syarat dan Ketentuan Pendaftaran

Syarat dan ketentuan pendaftaran bisa dilihat di link ini.

Selasa, 24 Maret 2009

Jumlah Penerima Raskin Berkurang

Rusdiana : Ongkos Angkut Pengaruhi Kenaikan SOA

SENGATA- Salah satu indikator keberhasilan pembangunan di Kabupaten Kutai Timur bisa dilihat dari angka penerima beras miskin (raskin). Jika pada tahun 2008 tercatat 25.230 jumlah rumah tangga sasaran (RTS), sedangkan tahun 2009 ini terdata 24.478 RTS. Dengan demikian, jumlah penerima raskin mengalami penurunan 752 RTS.

Kepala Bagian Ekonomi Setkab Kutim Rusdiana menyebutkan Pemkab Kutim pada 2008 lalu juga telah mengalokasikan anggaran untuk subsidi ongkos angkut (SOA) sebesar Rp 1.050.000. Lantas pada 2009 ini direncanakan alokasi SOA sebesar Rp 1.500.000.000. “Itu artinya alokasi SOA meningkat Rp 450.000.000 atau naik sebesar 42 persen,” ujarnya.

Peningkatan SOA dikarenakan biaya transportasi naik, akibat jarak penerima Raskin yang relatif berjauhan dan tersebar di 135 desa. Sementara, gudang Bulog untuk pengambilan beras berada di Samarinda. "Ongkos angkut itulah yang pengaruhi kenaikan atau bertambahnya anggaran SOA," jelas Rusdiana di ruang kerjanya, Selasa (24/3) kemarin.

Rusdiana juga mengatakan, raskin biasanya sudah dapat diambil atau ditebus pada setiap bulan, sejak awal tahun ini di Sub Bulog Samarinda. Sementara pendanaan awal untuk penebusan di Bulog tidak tersedia dan biaya SOA dari Pemkab Kutim menunggu anggaran cair.

"Anggaran untuk raskin dari Pemkab Kutim biasanya cair pertengahan tahun," ujarnya.

Disebutkan, kinerja program raskin menginginkan target 6 T mampu terpenuhi. Target 6 T dimaksud adalah tepat sasaran manfaat, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepat administrasi dan tepat kualitas. Namun harus diakui, tidak semua tim koordinasi raskin yang ada di kecamatan atau desa dapat melaksanakan 6 T tersebut.

“Sedangkan sasaran program raskin 2009 ini adalah untuk rumah tangga sangat miskin, miskin dan hampir miskin. Ini hasil pendataan ulang Biro Pusat Statistik atau BPS yang selanjutnya disebut RTS. Tahun ini tiap RTS mendapat jatah 15 kilogram per bulan selama 1 tahun dengan harga Rp 1.600 per kilogram netto di titik distribusi,” jelas Rusdiana. (hms2)

Sumber: Kaltim Post

Selasa, 17 Maret 2009

Pendataan Usaha Tani 2009


Dalam beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah telah dan sedang mencanangkan upaya peningkatan produksi komoditi pertanian guna memnuhi kebutuhan pangan nasional. Untuk maksud tersebut, diperlukan dukungan sarana dan prasarana produksi yang memadai dari hulu sampai hiir, termasuk dengan kebijakan Pemerintah terhadap rumah tangga usaha tani.

Dalam pelaksanaan program peningkatan produksi komoditi pangan tersebut dilibatkan berbagai instansi terkait, termasuk Bdan Pusat Statistik (BPS). Dukungan yang dapat dberikan BPS utamanya menyediakan data-base rumah tangga usaha tani yang lengkap, akurat, dan mutakhir.

Sesuai dengan hasil keputusan dari beberapa Rakor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dewasa ini sangat diperlukan rumah tangga usaha tani padi, jagung, kedelai, dan tebu. Oleh karena itu obyek Pendataan Usaha Tani 2009 (PUT09) ini difokuskan kepada rumah tangga usaha tani padi dan atau jagung, kedelai, tebu (RTUT-PJKT).

PUT09 dilaksanakan di 32 provinsi, mencakup: 448 kabupaten/kota, 6.272 kecamatan, 71.918desa/kelurahan, 576.710 Blok Sensus (BS) dan jumlah rumah tangga usaha tani padi, jagung, kedelai, dan tebu diperkirakan mencapai 14.488.276 rumah tangga .

Pendataan akan dilaksanakan pada minggu I hingga minggu IV bulan Februari 2009 oleh para petugas BPS yang telah diberi pelatihan sebelumnya.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Timur.